Apakah rindu harus selalu ada?
Rinduku datang 'tak diundang
pulangnya pun entahlah kapan
tanpa mengetuk pintu dia berkunjung
lihainya macam pengutil ulung
sewaktu, buatku tersenyum sendiri
waktu lain, buat luka terpatri
tapi hati ini senang akan hadirnya
sebab mewarnai pucat dinding 'tak bertuan
Rindu yang tertahan menyesakkan..
Tapi caraku meresapi kerinduan malah buat hidupku bergairah
hariku serasa dinaungi mentari yang cerah
inginnya aku bersumpah
yang dibutuhkan bukan pelampiasan yang mewah, sayang
bukan.. percayalah..
Tapi, biasanya orang membunuh rasa rindu karena sakitnya..
aku tidak seperti mereka.
aku bukan orang biasa.
sejak aku mencinta dan terus bercita tentangmu
aku bukan lagi orang biasa.
aku tidak lagi seperti mereka.
menyakitkan mungkin iya
tapi membunuhnya bukan caraku merindukanmu
Ketahuilah, puncak kerinduan adalah bermunajat dalam do'a..
ya, aku setuju
sayangnya aku cukup sadar bahwa sebelum mencapai puncak
di dasarnya lah aku akan menapak
do'a bukan puncak bagiku
beliau mengiringi kerinduanku dari dasar hingga atas sana
karena jiwa ini menolak hanya bermunajat di akhir episode
ia ingin bertasbih pada-Nya sepanjang pendakian
Tapi, semua ini adalah fakta.
sayangnya akupun punya beberapa fakta
pertama, aku tetap tenggelam dalam kerinduanku
kedua, beginilah caraku mencintaimu
dan ketiga, rinduku bukan berdasar fakta yang ada
-BDG-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar