Siluet Kehidupan
Ruangan itu gelap. Meskipun cukup luas bagi seseorang yang tinggal sendiri, ruangan itu tetap saja gelap. Ruangan yang lebih cocok disebut perpustakaan pribadi daripada kamar tidur. Disekeliling dindingnya penuh dengan rak buku yang jelas terlihat sudah melebihi kapasitas dilihat dari banyaknya buku disana. Rak-rak itu memperkuat kesan "kegelapan" dan keheningan. Ruanagn itu tidak sepenuhnya tanpa cahaya, disudut ruanagan disamping rak buku bertuliskan SASTRA, terlihat cahaya redup yang menerangi sebuah buku yang sangat tebal. Disamping buku itu terlihat samar-samar sebuah kepala yang tergeletak menghadap kesamping kiri diatas tumpuan dua lengan yang sangat kurus.
Kardimin. Begitu orang-orang yang mengenalnya sering memanggilnya. Sebenarnya memang tidak lebih dari tiga orang yang mengenalnya. dan merekapun lebih seperti terpaksa untuk mengenalnya karena Kardimin pernah berhutang uang pada mereka. Jika ada seseorang yang melihatnya sekarang dalam keadaan setengah tertidur, kantung mata yang menghitam, dan tubuh yang sedingin es dibawah jam berbentuk jagung yang berwarna pudar, pasti dia akan mengira Kardimin tidak bernyawa. Namun tidak, Kardimin masih terjaga. Pikirannya melayang-layang mengingat peristiwa 6 tahun lalu saat orangtuanya keluar melewati pintu rumahnya dengan membawa koper besar dan menggendong adik perempuannya. Sayang, Kardimin tidak pernah lagi melihat mereka dari balik pintu itu.
Tanpa ia sadari malam ini ia kembali berdebat dengan hati kecilnya. Seolah dia bisa mendengar dengan jelas raungan dalam pikirannya.
"apa gunanya aku tekun belajar jika hasilnya aku terasingkan dari nyatanya kehidupan?" Ah, tanpa sadar ia bergumam namun sulit untuk memberi jawaban. "apa gunanya aku menuntut ilmu kalau membuatku diabaikan ditengah keramaian dan tidak leluasa mengekspresikan diri?" Lagi-lagi ia tidak bisa menjawab pikirannya sendiri. "apa gunanya mempelajari ilmu teknik, filsafat, kedokteran, atau sastra jika hasilnya aku semakin dalam di siluet bayangan kegelapanku sendiri?" Kembali ia terdiam sambil tanpa sadar mengepalkan tangannya.
Mungkin angin malam memusnahkan kemampuannya berbicara. Ia tetap membisu. Akhirnya, dia tertidur setelah meneteskan sedikit air mata.
-BDG-2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar